Ilusi
Psikologis Akhwat
Imajinasi mengukir
anatomi psikologi beriring menjalani telapak para bunga di kelilingi seputar
pemikiran. Cahaya perlihatkan kesenjangan diantara detik-detik waktu mengikuti
tatanan bahasa, sosial, arkelogis manusia dalam sisi lain mengejar kearah
kontinuitas mode.
Tertutup iringan derai
alunan-alunan senandung disaat angin terkeliling oleh bunga-bunga cipta tuhan.
Berhenti sejenak bertanya akan persepsi-persepsi tentang Argumental liuk tubuh
lawan jenis. Biologis menarik mengejar arahnya, lalu hilang tidak ditemukan
dikeramaian.
Kenyataan bersembunyi
dibalik rumput dan para pepohonan.
Disana...dibalik kaca
Disana...dibalik tembok
Disana....dibalik atap
Bersembunyi suara
gemuruh desahan lembut, terbuka mata tertutup oleh selembar daun ilalang. Tidak
terlihat liuk tubuh, hanya telapak tangan dan sinar wajah yang tidak sehelai
bulu tertangkap oleh indra penglihat.
Waktu sungguh terbawa
ke arah kolam dibawah rimbunnya batang besar tempat membuat pespektif akan
tampilnya pantulan cahaya yang mengalami perabiasan diperubahan wujud. Matahari
mulai tidur disisi bagian aku berdiri dan mulai menyinari sudut lain dimana
suatu kaum bangkit dari kematian sesaat bersama hasil kinerja peristirahatan.
Dering membangunkanku
didalam waktu yang berganti dilayuhnya gemerlap lampu-lampu terlihat dijendela
penjara satu bintang yang tetap berdiri ditempat yang sama diruang hati
berselimut gugurnya sesuatu yang datang dengan sendirinya, namun tidak pernah
bisa dipaksakan untuk pergi.
Senyap dunia tidak biasa
ditampilkan awan hitam, gemuruh tidak terdengar, air mulai tidur dan angin
menghembuskan kesejukan ke raga- raga yang mulai tandus. Semua manusia telah
dalam alam lain di dimensi kedua melihat dan menyentuh apa yang menjadi
emosional non-visual sejalan dengan waktu masa lampau.
Gogongan anjing
terdengar dinegeri legendaris kujang menempatkan rohani menjalar ke ketakutan
tentang misteriusnya jagat raya bumi siliwangi. Aku terus membuka indera ke
enam mencari titik suara dan sekejap suara itu menghilang.
Apa yang kumiliki tidak
pernah sesuai akan yang tubuhku butuhkan, hanya tertidur dalam lelap dilelahnya
jiwa kemudian terbangun dengan satu bayangan. Tetap seperti itu....entah sampai
kapan metode penalaran dapat diberi kurung kurawal yang menghasilkan isi tidak
sama dengan.
Sudut lancip waktu
terus melukai sampai membentuk suatu lukisan abstrak tidak terartikan mata-mata
penikmat aura modernisasi. Mata klasik berbicara lain diwatu yang sama.
Teknologi menderu jemari yang menari mulai letih sinar tikus kecil merah seakan
menjadi lampu diskotik yang membawa kedalam peristirahatan di udara yang
menyentuh daun-daun menciptakan embun untuk kehidupan esok.
Terasa sesntuhan lembut
bersama suara seruan lembut terekam di shoftware tuhan. Terasa manis gemulainya
bernyayi ditengah tarian2 kecil membawa imajinasi kealam lain menjadi sebuah
ilusi sesaat ingin di underline. Dingin terasa menggelegar memecahkan suasana
terbawa hasrat mengikat ujung jiwa memompakan arus merah diteruskan
kesyaraf-syaraf sensorik terhenti disela kecil menutup selaput.terminalisasi menuju tuhan