Sabtu, 09 November 2013

Terminalisasi menuju tuhan

Ilusi Psikologis Akhwat
Imajinasi mengukir anatomi psikologi beriring menjalani telapak para bunga di kelilingi seputar pemikiran. Cahaya perlihatkan kesenjangan diantara detik-detik waktu mengikuti tatanan bahasa, sosial, arkelogis manusia dalam sisi lain mengejar kearah kontinuitas mode.
Tertutup iringan derai alunan-alunan senandung disaat angin terkeliling oleh bunga-bunga cipta tuhan. Berhenti sejenak bertanya akan persepsi-persepsi tentang Argumental liuk tubuh lawan jenis. Biologis menarik mengejar arahnya, lalu hilang tidak ditemukan dikeramaian.
Kenyataan bersembunyi dibalik rumput dan para pepohonan.
Disana...dibalik kaca
Disana...dibalik tembok
Disana....dibalik atap
Bersembunyi suara gemuruh desahan lembut, terbuka mata tertutup oleh selembar daun ilalang. Tidak terlihat liuk tubuh, hanya telapak tangan dan sinar wajah yang tidak sehelai bulu tertangkap oleh indra penglihat.
Waktu sungguh terbawa ke arah kolam dibawah rimbunnya batang besar tempat membuat pespektif akan tampilnya pantulan cahaya yang mengalami perabiasan diperubahan wujud. Matahari mulai tidur disisi bagian aku berdiri dan mulai menyinari sudut lain dimana suatu kaum bangkit dari kematian sesaat bersama hasil kinerja peristirahatan.
Dering membangunkanku didalam waktu yang berganti dilayuhnya gemerlap lampu-lampu terlihat dijendela penjara satu bintang yang tetap berdiri ditempat yang sama diruang hati berselimut gugurnya sesuatu yang datang dengan sendirinya, namun tidak pernah bisa dipaksakan untuk pergi.
Senyap dunia tidak biasa ditampilkan awan hitam, gemuruh tidak terdengar, air mulai tidur dan angin menghembuskan kesejukan ke raga- raga yang mulai tandus. Semua manusia telah dalam alam lain di dimensi kedua melihat dan menyentuh apa yang menjadi emosional non-visual sejalan dengan waktu masa lampau.
Gogongan anjing terdengar dinegeri legendaris kujang menempatkan rohani menjalar ke ketakutan tentang misteriusnya jagat raya bumi siliwangi. Aku terus membuka indera ke enam mencari titik suara dan sekejap suara itu menghilang.
Apa yang kumiliki tidak pernah sesuai akan yang tubuhku butuhkan, hanya tertidur dalam lelap dilelahnya jiwa kemudian terbangun dengan satu bayangan. Tetap seperti itu....entah sampai kapan metode penalaran dapat diberi kurung kurawal yang menghasilkan isi tidak sama dengan.
Sudut lancip waktu terus melukai sampai membentuk suatu lukisan abstrak tidak terartikan mata-mata penikmat aura modernisasi. Mata klasik berbicara lain diwatu yang sama. Teknologi menderu jemari yang menari mulai letih sinar tikus kecil merah seakan menjadi lampu diskotik yang membawa kedalam peristirahatan di udara yang menyentuh daun-daun menciptakan embun untuk kehidupan esok.
Terasa sesntuhan lembut bersama suara seruan lembut terekam di shoftware tuhan. Terasa manis gemulainya bernyayi ditengah tarian2 kecil membawa imajinasi kealam lain menjadi sebuah ilusi sesaat ingin di underline. Dingin terasa menggelegar memecahkan suasana terbawa hasrat mengikat ujung jiwa memompakan arus merah diteruskan kesyaraf-syaraf sensorik terhenti disela kecil menutup selaput.terminalisasi menuju tuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar